DAFTAR SISWA SMANCIR

User Menu

Mini radio player

LAGU

There seems to be an error with the player !

Home Artikel SD Tak Sampai Tiga Tahun, Kini Sudah Kelas II SMA
SD Tak Sampai Tiga Tahun, Kini Sudah Kelas II SMA PDF Print E-mail
Written by Asep Hidayat, S.Pd, M.Pd, M.Kom   
Friday, 04 September 2015 01:46

SD Tak Sampai Tiga Tahun, Kini Sudah Kelas II SMA

Universitas Surya Jakarta yang didirikan Prof Yohanes Surya berencana membuat sekolah khusus bocah genius. Sebagai langkah awal, kampus tersebut membina dua bocah genius ber- IQ ”tidak normal”. Salah satunya Cendikiawan Suryaatmadja, bocah 10 tahun dengan IQ 189. BAYU PUTRA, Tangerang

WAJAH polos khas bocah membuat Diki, pang gilan akrab Cendikiawan Suryaatmadja, sekilas tidak berbeda dengan bocah 10 tahun pada umumnya. Saat ditemui di ruangan rektor Universitas Surya kemarin (19/5), dia sedang mempelajari materi soal mengenai mekanika dan fluida di bawah bimbingan langsung Prof Yohanes Surya.

Tetap dengan gestur bocah, Diki dengan serius memperhatikan penjelasan Prof Yohanes mengenai hitung-hitungan gaya dan beban katrol. Diskusi tersebut berlangsung singkat, tidak sampai 5 menit. Setelah Yohanes memberikan penjelasan singkat dengan sesekali disela pertanyaan oleh Diki, bocah itu langsung mengembangkan rumus- rumus tersebut.

Tidak sampai semenit, dia telah menyelesaikan satu soal setingkat SMA. Yohanes lalu memberi Diki tugas menyelesaikan sejumlah soal di buku itu. Saat mengecek hasilnya, Yohanes pun tersenyum senang. ”Dia mengembangkan persamaan sendiri untuk soal ini. Bahkan, saya tidak mempelajarinya saat kuliah,” ujar Yohanes sambil menunjukkan hasil penjabaran rumus yang dilakukan Diki.

Diki memang berbeda dengan bocah umumnya. Pada usianya yang menjelang 10 tahun, gaya bicaranya sudah cukup matang layaknya orang dewasa. Dia mampu menjelaskan berbagai hal mengenai matematika dan fisika di level yang dikuasai.

Misalnya, integral first order untuk matematika dan gerak rotasi untuk fisika. Bocah ingusan itu menuturkan, kemampuan nya yang berbeda tersebut terlihat sejak dirinya masih bayi. Pada usia 6 bulan, Diki mengaku sudah bisa berbicara. Bahkan, dia mulai belajar membaca pada usia setahun.

Pada ulang tahun kedua, Diki sudah lancar membaca. ”Pada usia 2 tahun, saya masuk play group,” tuturnya. Pada usia yang sama, dia mulai belajar berhitung di bagian pertambahan. Beberapa bulan kemudian, dia belajar pengurangan. Pada usia 3 tahun, saat mulai bisa menulis, Diki pun mempelajari perkalian yang dilanjutkan dengan pembagian.

Ketertarikan itu berawal saat Diki membuka-buka buku milik kakak perempuannya yang sudah masuk sekolah dasar. Bocah kelahiran 1 Juli 2004 itu mengungkapkan, dirinya juga selalu penasaran terhadap segala sesuatu yang mengandung pengetahuan.

Karena itu, Diki selalu bertanya kepada sang ayah tentang berbagai hal. Mengapa buah bisa jatuh, mengapa pohon bergoyang saat ada angin, dan berbagai hal lainnya. Kecerdasan Diki yang tidak biasa itu pun mendapat perhatian serius dari orang tuanya (dengan alasan tertentu, Diki meminta identitas orang tuanya tidak dikorankan, Red).

Pada umur 6 tahun, dia disekolahkan di SD. Namun, dia hanya sebentar menjalani pendidikan dasar tersebut. Dari kelas I SD, dia loncat ke kelas III. Sempat naik ke kelas IV, tapi kemudian orang tuanya memindahkan Diki ke Singapura untuk ”menyalurkan” kecerdasannya.

Di negeri tetangga itu, dia bersekolah selama 6 bulan. ”Sekarang saya SMA,” ujarnya. Diki dipertemukan dengan Prof Yohanes tidak lama setelah ulang tahunnya yang kedelapan. Melihat kegeniusannya, Yohanes memutuskan untuk menggembleng Diki guna meningkatkan kemampuannya di bidang sains, khususnya fisika.

Tidak jarang Yohanes turun tangan sendiri membimbing Diki. Kegeniusan itu dibuktikan Diki dengan cara menyerap setiap materi pelajaran. ”Materi kelas I SMA saya serap dalam waktu tiga minggu,” jelasnya. Untuk materi kelas II SMA, saat ini dia baru separo jalan dan perlu dua pekan untuk menguasai materi-materi tersebut.

Tapi, menjadi anak genius tidak selamanya menyenangkan. Diki menuturkan, dirinya harus rela hanya memiliki sedikit teman bermain. Biasanya, dia memilih pasif dan menunggu teman-teman sebayanya mengajak bermain. Jika tidak, dia akan menyibukkan diri dengan menonton televisi atau main game.

Diki bercerita, dirinya beberapa kali mendapat pengalaman buruk saat berusaha aktif berteman. Dia ditolak teman-teman sebayanya. ”Saya akan selalu ingat penolakan itu selamanya, namun tidak akan trauma,” tuturnya. ”Saya juga merasa lebih nyaman bergaul dengan adult (orang dewasa),” lanjut bungsu tiga bersaudara itu.

Meski tidak memiliki banyak teman, Diki tidak menyesal. Saat ini dia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade fisika tingkat SMA. Namun, baru tahun depan dia mengikuti olimpiade tersebut. Sebelumnya, Diki sering mengikuti olimpiade sains, baik tingkat nasional maupun internasional.

Saat ditanya cita-citanya kelak, Diki menjawab lugas. ”Saya ingin menjadi the most superior youngest physicists (fisikawan termuda paling hebat),” ucapnya dengan gaya meyakinkan. Namun, dia mengingatkan, pada dasarnya, tidak ada orang yang mampu menguasai ilmu fisika dengan sempurna.

”Mereka hanya mencapai level yang lebih dari orang kebanyakan,” tambahnya. Yohanes mengaku takjub atas kemampuan Diki, baik dalam penguasaan materi pelajaran maupun dalam logika bicara. Bagi dia, potensi bocah seperti Diki harus ditangani orang yang tepat. Sebab, siswa seperti Diki sangat dibutuhkan Indonesia pada masa depan.

”Seandainya saya bertemu dengan dia jauh sebelumnya, mungkin hasilnya akan lebih baik,” tuturnya. Selain Diki, Yohanes sedang menangani bocah genius lainnya. Dia bernama Ethan dengan IQ 168. Hanya, Ethan baru memulai bimbingan. Melihat potensi-potensi besar anak Indonesia seperti Diki dan Ethan, Yohanes berencana membuka sekolah khusus anakanak genius.

Hal itu dimulai pada tahun pelajaran baru nanti. Bersama timnya, Yohanes akan menggembleng delapan bocah dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa. ”Saat ini kami sedang menyiapkan kurikulum yang pas untuk mereka,” terangnya. Pada 2015 pihaknya menerima lebih banyak anak genius.

Yohanes menargetkan bisa menjaring lima anak dari tiap kota. Artinya, akan ada sekitar 2.500 anak genius yang masuk dalam bimbingan Universitas Surya. Hanya, dia tidak akan memaksakan untuk mengambil 2.500 anak. Bisa memperoleh 400 anak saja sudah cukup.

”Anak-anak itu nanti dibiayai lewat beasiswa dari pemda masing-masing,” ucap ilmuwan berusia 50 tahun itu. Untuk memuluskan rencana tersebut, pihaknya akan menyeleksi secara ketat anakanak genius yang masuk dalam pantuannya. Dia hanya akan mengambil anak-anak yang perkembangan kegeniusannya sudah setengah jadi atau bahkan sudah jadi.

Juga, mereka tetap mempunyai motivasi tinggi untuk berkembang. Menurut Yohanes, bisa saja ada anak yang berpotensi genius, namun belum dikembangkan sama sekali. Karena itu, saat ini dia melatih sejumlah guru dari berbagai daerah untuk mematangkan anak-anak genius tersebut di daerah masing-masing.

”Kalau sudah berkembang, tahun berikutnya baru kami ambil,” lanjutnya. Konsep sekolah anak genius itu nanti menggunakan sistem percepatan belajar. Siswa diarahkan untuk bisa mengembangkan kemampuan secara optimal melalui riset-riset.

Pelajaran SD dimampatkan menjadi tiga tahun. Begitu pula untuk SMP dan SMA. Di level tersebut, mereka akan dibiasakan dengan konsep research by learning. Targetnya, dengan menempuh pendidikan selama 12 tahun, anak-anak genius itu sudah bisa menyelesaikan studi S-3.

”Jadi, bisa dibayangkan, anak usia 7 tahun ditambah (pendidikan) 12 tahun, pada usia 19 tahun mereka sudah bergelar doktor,” terangnya. Yohanes berharap, dengan kurikulum yang dia kembangkan, muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia dengan kemampuan yang luar biasa. Pihaknya bakal mengembangkan dan memfasilitasi para siswa itu dengan berbagai riset. ”Kami akan bikin research-research center yang klop dengan itu semua,” tegasnya.

 

Last Updated on Wednesday, 09 September 2015 11:26
 

Facebook Like




Powered by Joomla!. Designed by: joomla templates web hosting Valid XHTML and CSS.